yosepiny07's blog

Just another weblog

Hipertensi

October30

HIPERTENSI

Pengertian

Hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Hipertensi berasal dari kata “hiper” yang berarti berlebihan, dan “tensi” yang berarti tekanan/tegangan. Hipertensi adalah gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan  kenaikan tekanan darah diatas nilai normal.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka.  Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistol) sedangkan angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastol).

Berdasarkan The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure, merupakan suatu badan peneliti hipertensi di USA menentukan kriteria hipertensi berdasarkan tekanan darah. Berikut ini klasifikasi hipertensi selengkapnya:

No Kriteria Tekanan Darah (mmHg)
Sistolik Diastolik
1 Normal <130 <85
2 Perbatasan (high normal) 130-139 85-89
3 Hipertensi
Derajat 1 = ringan (mild) 140-159 90-99
Derajat 2 = sedang (moderate) 160-179 100-109
Derajat 3 = berat (severe) 180-209 110-119
Derajat 4 = sangat berat (very severe) >210 >120

Etiologi

hipertensi terbagi menjadi 2 yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder.

  1. hipertensi primer

hipertensi primer adalah Hipertensi primer adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya secara spesifik. Hipertensi jenis ini diderita oleh 90% penderita hipertensi. Faktor-faktor penyebab hipertensi jenis ini adalah:

  • genetik (keturunan)
  • umur
  • jenis kelamin
  • faktor lain (sensitivitas garam, homeostasis, reninresistansi insulin, tidur apneu, dll)
  1. hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang telah diketahui penyebabnya. Hipertensi jenis ini diderita oleh 10 % penderita hipertensi. Faktor-faktor penyebab hipertensi ini adalah:

  • hipertensi pada penyakit ginjal

Penyakit ginjal dapat meningkatkan tekanan darah dan sebaliknya hipertensi yang berkepanjangan dapat menggangu kerja ginjal. Secara klinis sulit untuk membedakan dua keadaan tersebut,  terutama pada penyakit  ginjal menahun. Hipertensi pada penyakit ginjal  dapat  terjadi pada penyakit ginjal akut maupun penyakit ginjal kronik, baik pada kelainan glumerolus maupun pada kelainan vascular.

  • Hipertensi pada kehamilan

.Hipertensi pada kehamilan merupakan penyebab utama peningkatan morbiditas dan mortalitas maternal, janin dan neonatus. Kedaruratan hipertensi dapat menjadi komplikasi dari preeklampsia sebagaimana yang terjadi pada hipertensi kronik. Perempuan hamil dengan hipertensi mempunyai risiko yang tinggi untuk terjadinya komplikasi yang berat seperti abruptio plasenta, penyakit serebrovaskuler, gagal organ, koagulasiintravaskular

  • Hipertensi akibat dari penggunaan obat – obatan

Penggunaan obat yang paling banyak berkaitan dengan hipertensi adalah pil kontrasepsi oral (OCP). 5% perempuan mengalami hipertensi sejak mulai penggunaan. Perempuan usia lebih tua (> 35 tahun) lebih mudah terkena, begitu pula dengan perempuan yang pernah mengalami hipertensi selama kehamilan.  Pada 50 % tekanan darah akan kembali normal dalam 3 –6 sesudah penghentian pil

Patofisiologi

Tekanan darah terutama dikontrol oleh sistem saraf simpatik (kontrol jangka pendek) dan ginjal (kontrol jangka panjang). Mekanisme yang berhubungan dengan penyebab hipertensi melibatkan perubahan – perubahan pada curah jantung dan resistensi vaskular perifer.

Pada tahap awal hipertensi primer curah jantung meninggi sedangkan tahanan perifer normal.  Keadaan ini disebabkan peningkatan aktivitas simpatik. Saraf simpatik mengeluarkan norepinefrin, sebuah vasokonstriktor yang mempengaruhi pembuluh arteri dan arteriol sehingga resistensi perifer meningkat.  Pada tahap selanjutnya curah jantung kembali ke normal sedangkan tahanan perifer meningkat yang disebabkan oleh refleks autoregulasi. Refleks auto regulasi adalah mekanisme tubuh untuk mempertahankan keadaan hemodinamik yang normal. Curah jantung yang meningkat menyebabkan  terjadi konstriksi sfingter pre-kapiler yang mengakibatkan penurunan curah jantung dan peninggian tahanan perifer. Pada stadium awal sebagian besar pasien hipertensi menunjukkan curah jantung yang meningkat dan kemudian diikuti dengan kenaikan tahanan perifer yang mengakibatkan kenaikan tekanan darah yang menetap.

Tanda dan Gejala

Hipertensi ringan atau  sedang umumnya tidak menimbulkan gejala secara fisik. Gejala hipertensi baru muncul bila hipertensi menjadi berat atau pada keadaan krisis hipertensi.

Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala sampai bertahun-tahun. Gejala bila ada menunjukan adanya kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan.

Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan azetoma [peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin]. Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam penglihatan menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa:

  • Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranial,
  • Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi,
  • Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat
  • Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus
  • Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler

Gejala lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka merah, sakit kepala, keluaran darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal dan lain-lain.

Pencegahan

Resiko seseorang untuk mendapatkan hipertensi dapat dikurangi dengan cara :

  • Memeriksa tekanan darah secara teratur
  • Menjaga berat badan dalam rentang normal
  • Mengatur pola makan, antara lain dengan mengkonsumsi makanan berserat, rendah lemak dan mengurangi garam.
  • Hentikan kebiasaan merokok dan minuman beralkohol
  • Berolahraga secara teratur
  • Hidup secara teratur
  • Mengurangi stress dan emosi
  • Mengurangi makanan berlemak

Mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk menghindari dan membatasi makanan yang dpat meningkatkan kadar kolesterol darah serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke atau infark jantung. Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah:

  1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).
  2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam  natrium (biscuit, craker, keripik dan makanan kering yang asin).
  3. Makanan dan minuman dalam  kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng, soft drink).
  4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai kacang).
  5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).
  6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium.
  7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

Zat gizi yang diperlukan pada penderita hipertensi adalah  karbohidrat, protein dan lemak yang disebut sebagai zat gizi makro serta vitamin dan mineral yang disebut dengan zat gizi mikro. Selain itu, untuk memperlancar proses metabolisme dalam tubuh diperlukan air dan serat.

Tubuh manusia membutuhkan aneka ragam makanan untuk memenuhi semua zat gizi tersebut. Kekurangan atau kelebihan salah satu unsur zat gizi akan menyebabkan kelainan atau penyakit. Oleh karena itu, perlu diterapkan kebiasaan makanan yang seimbang sejak usia dini dengan jumlah yang sesuai kebutuhan masing-masing individu agar tercapai kondisi kesehatan yang prima.

Terapi Gizi

Jenis diet yang diberikan kepada penderita hipertensi adalah diet rendah garam. Tujuan dietnya adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.

Syarat dietnya ialah:

  • Cukup energi, protein, dan mineral
  • Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit
  • Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam/air dan/hipertensi

Jenis-jenis diet yang diberikan adalah:

Diet Garam Rendah I (200-400 mg Na)

Diberikan pada pasien dengan edema, asites, dan atau hipertensi berat. Tidak ditambahkan garam dapur dalam pengolahan makanannya. Hindari juga bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

Diet Garam Rendah II (600-800 mg Na)

Diberikan pada pasien dengan edema, asites, dan atau hipertensi tidak terlalu berat. Boleh menggunakan ½ sdt (2 gr) garam dapur dalam pengolahanmakanannya. Hindari juga bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

Diet Garam Rendah III (1000-1200 mg Na)

Diberikan pada pasien dengan edema, asites, dan atau hipertensi ringan. Boleh menggunakan 1 sdt (4 gr) garam dapur dalam pengolahan makanannya.

Bahan makanan yang dianjurkan dan yang harus dihindari adalah:

  • Dianjurkan

bahan makanan yang tidak menggunakan garam dapur, soda, atau baking powder dalam pengolahannya,Bahan makanan segar tanpa diawetkan, daging dan ikan maksimal 100 gr sehari, dan untuk telur 1 butir sehari.

  • Dihindari

bahan makanan yang diolah dengan garam dapur, soda, baking  powder, asinan, dan bahan makanan yang diawetkan dengan natrium benzoat,  soft drinks, margarin dan mentega biasa, bumbu yang mengandung garam  dapur (kecap, terasi, tomato ketchup, tauco, dan lain sebagainya).